Selamat Datang Di MASJID BUNYAANUL HUDAA KEMBARAN,Kritik dan saran "bunyaanulhudaa@gmail.com"

Rabu, 16 Oktober 2013

SELAYANG PANDANG MASJID BUNYAANUL HUDAA




SEJARAH SINGKAT
MASJID BUNYAANUL HUDAAMasjid Bunyaanul Hudaa merupakan salah satu masjid tua di kawasan Kabupaten Wonosobo.Berdasarkan data yang kami peroleh dari dokumen KUA Kecamatan Kalikajar serta penuturan dari sesepuh dan tokoh masyarakat Kembaran,masjid yang terletak di Jl.Ronggolawe Desa Kembaran ini didirikan sekitar tahun 1842M.Berdirinya masjid ini tidak lepas dari peran seorang ulama yang berdakwah di daerah Kembaran pada masa itu yang dikenal masyarakat dengan sebutan Mbah Kyai Raden Santri.
Beliau inilah yang telah berjuang dan membimbing masyarakat yang pada masa itu masih kental dengan tradisi hinduisme hingga menjadi masyarakat yang islami.
Kyai Raden Santri berdakwah didaerah ini hingga akhir hayat beliau dan dimakamkan di pemakaman umum Semunggang Desa Maduretno kecamatan Kalikajar.Meskipun beliau telah tiada akan tetapi masyarakat masih menghormati dan mengenangnya,hal ini dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang berziarah kemakam beliau terutama pada hari kamis atau Jum’at tiap pekannya.Mengenai nama Kyai Raden Santri,adakah keterkaitan dengan nama Kyai Raden Santri Gunung Pring Muntilan? wallohu a’lam,karena sampai saat ini belum ada kajian ilmiah tentang hal  tersebut.
Sepeninggal Kyai Raden Santri,dakwah di Desa Kembaran dilanjutkan oleh para ulama Ahlussunah waljama’ah,diantaranya KH.Abdul Hamid dari Krompakan Magelang lalu dilanjutkan oleh KH.Dimyati (Kaliwiro,Wonosobo),kemudian dilanjutkan oleh Kyai Abdullah Umar hingga akhirnya tugas da’wah dilanjutkan oleh Kyai Sonhaji.Setelah Kyai Sonhaji wafat,estafet dakwah didesa Kembaran dilanjutkan oleh Kyai Sobar Usman yang tidak lain adalah menantu dari Kyai Sonhaji hingga saat ini.

PEMUGARAN DAN PEMBANGUNAN
Guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang 100% adalah muslim Ahlussunah waljama’ah,sejak berdiri hingga saat ini telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1920.Pada tahun 1965 saat kepemimpinan dipegang oleh Kyai Sonhaji pemugaran kedua dilakukan,pada pemugaran kedua ini pembangunan sudah menggunakan batu kali dan semen merah yang dibuat dari pecahan genting yang dihaluskan.Desain masjid saat itu digambar oleh Kyai Sonhaji dan dikerjakan oleh tukang- tukang dari Desa Kembaran sendiri.

MASJID BUNYAANUL HUDAA
Masjid Bunyaanul Hudaa lama (dibangun tahun 1965)
Seiring berjalannya waktu,pertumbuhan penduduk tidak dapat dihindari lagi,bangunan masjid pun tidak mampu menampung jama’ah yang semakin banyak terutama saat sholat Jum’at maupun Idul Adha dan Idul Fitri.Dimulai pada tahun 2003 pembangunan dan pelebaran Masjid Bunyaanul Hudaa dimulai.

MASJID BUNYAANUL HUDAA
Pembongkaran bangunan masjid lama
Dengan semangat gotong royong yang masih kental,masyarakat Kembaran bahu membahu bergotong royong membangun masjid demi terpenuhinya kebutuhan sarana peribadatan yang memadai.Setelah memakan waktu selama 4 tahun yaitu dari tahun 2003 sampai tahun 2007 dan berdiri di atas lahan seluas 1270 m2 masjid dua lantai seluas 528 m2 akhirnya selesai pengerjaannya dengan menelan biaya sekitar Rp.1.500.000.000 bersumber dari swadaya murni masyarakat Kembaran.Masjid Bunyaanul Hudaa diresmikan penggunaannya oleh Bupati Wonosobo H.Abdul Kholik Arif pada tanggal 15 April 2007

MASJID BUNYAANUL HUDAA
Lantai atas
MASJID BUNYAANUL HUDAA
Serambi depan
MASJID BUNYAANUL HUDAA
Mihrab
MASJID BUNYAANUL HUDAA
Masjid Bunyaanul Hudaa
MASJID BUNYAANUL HUDAA
Masjid Bunyaanul Hudaa
MASJID BUNYAANUL HUDAA
Masjid Bunyaanul Hudaa 

Kini masyarakat Kembaran telah memiliki sebuah masjid yang indah dan megah yang diharapkan dapat menjadi mercusuar dakwah di Kembaran dan sekitarnya,Amin.



1 komentar :

  1. Masukkan komentar Anda... Miozam miozam nang kulone masjid seng do ngelih do mampir,

    BalasHapus